ISLAMIANA

Referensi Islami Masa Kini

Wednesday, August 23, 2017

TUJUH FAKTA KESALAHAN ORANGTUA KEPADA ANAK

Semua orangtua pasti menginginkan anaknya menjadi orang yang baik. Menjadi anak yang shalih dan salihah. Menghormati, berbakti dan menyangi saat dia masih hidup dan mendoakan saat dia telah tiada.

Namun untuk itu, tentu memerlukan proses. Proses tersebut berjalan mulai saat masa kanak-kanak. Masa kanak-kanak adalah masa emas. Di saat inilah mental, karakter dan moral anak mulai terbentuk. Karena itu orang tua harus benar-benar memanfaatkan masa emas untuk menanamkan nilai-naiali agama dengan baik.

Mengapa orang tua? Karena pendidikan anak mutlak menjadi tanggungjawab orangtua. Orangtualah yang berkontribusi besar pada pendidikan anak. Bahkan orangtua juga yang menentukan anaknya kelak mau dijadikan apa. Bukankankah nabi Muhammad Saw. telah bersabda, bahwa setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang menjadikan dia yahudi, nasrani dan majusi.

Pendidikan orangtua kepada anaknya disebut pendidikan informal atau pendidikan keluarga. Disini orangtua tidak hanya menjadi pengajar, namun pendidik dan pembimbing. Tak hanya itu, orangtua juga menjadi panutan dan teladan bagi anak-anaknya. Jadi orang tua harus benar-benar bijak dalam berprilaku dan bersikap. Dan hendaknya mendidik anak secara total. Karena salah mendidik anak, akan menyesal selamanya. Tanamkan yang kokoh nilai keislaman kepada anak sehingga kelak ia menjadi generasi islam  tangguh, tidak roboh ketika diterpa badai kemaksiatan.

Fakta di lapangan yang penulis cermati, banyak orangtua yang salah dalam memberi pemahaman, teladan dan mendidik anaknya. Sehingga menjauhkan anak dari moral dan mental serta nilai-nilai Islam sebagai agamanya.

Berikut, penulis paparkan beberapa kesalahan yang dilakukan orang tua yang harus kita cermati dan hindari. Sehingga mudah-mudahan anak kita menjadi anak-anak shalih dan shalihah. Menjadi generasi penerus Islam yang Islami. Penegak syariat di muka bumi.

Kesalahan Pertama: Menjadikan Ilmu Agama Hanya sebagai Pelengkap

Fakta di lapangan, banyak orangtua yang kecewa dan panik tidak terkira saat mendapati nilai pelajaran matematika atau bahasa inggris anaknya anjlok. Sebaliknya orangtua tak pernah menanyakan berapa nilai mata pelajaran agama Islam anaknya.
Di sisi lain, orangtua juga banyak yang rela memasukkan anaknya ikut bimbingan belajar, les dan privat mata pelajaran umum. Meraka bahkan rela mati-matian membayar mahal asal anaknya pinter pelajaran itu. Namun mereka lupa mendidik anaknya dengan pelajaran agama Islam.

Bahkan, ironinya lagi, bilapun anaknya di titipkan di Taman Pendidikan Alquran (TPA), orangtua sering lupa dan telat membayar Sumbangan Penyelenggaraan Pendidikan (SPP) meskipun jumlahnya tidak seberapa. Tak hanya itu, orangtua marah saat anaknya bolos sekolah. Namun lalai memerintahkan anaknya untuk pergi mengaji di TPA.

Kemudian orang tua mengontrol dan menanyakan perkembangan nilai pelajaran umum anaknya kepada guru, sementara dia tak pernah memperhatikan dan menayakan mata pelajaran agama Islam anaknya. Bahkan di TPA atau di tempat anaknya mengaji, dia tidak begitu memperhatikan sudah bisa apa dan sampai di mana anaknya mengaji kepada ustadz.

Itu semua merupakan kesalahan. Seharusnya orang tua menyeimbangkan perhatiannya kepada pelajaran agama maupun umum. Tidak mengesampingkan atau menomorduakan pelajaran agama. Dengan begitu anak menjadi tahu bahwa ilmu agama dan umum sama-sama penting dan berharga.

Alangkah lebih baiknya, orangtua memberikan perhatian khusus untuk pendidikan aagama sang anak. Karena ilmu agama merupakan bekal untuk menjalani hidup sesuai tuntunan syariat Islam.

Kesalahan Kedua:  Toleran Terhadap Perbuatan Dosa

Sebagai contoh adalah kewajiban shalat. Islam mengajarkan, ketika anak berusia 7 tahun maka orang tua harus memerintahkan anaknya untuk shalat. Ketika masuk usia 10 tahun maka anak harus dipukul (dengan pukulan mendidik) bila tidak mau mendirikan shalat.

Fakta di lapangan, banayak orangtua yang terlalu toleransi pada anaknya. Sehingga selalu dibiarkan begitu saja, saat meninggalkan shalat. Seharusnya orang tua keras pada anak agar disiplin mendirikan shalat lima waktu. Tidak ada alasan bagi anak untuk meninggalkan shalat meskipun belum baligh.

Bila subuh, bangunkan anak untuk shalat. Begitu juga pada waktu-waktu lainnya. Perintahkan anak agar mendirikan shalat. Tanyakan apakah anaknya sudah shalat atau belum.

Untuk ini, tentu orangtua juga harus disiplin melaksanakan shalat lima waktu. Jangan memerintah anak shalat, tapi orangtua sendiri tidak mendirikan shalat.

Begitu juga dengan kewajiban lain. Perintahkan anak untuk melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim yang taat beragama.

Kesalahan Ketiga: Menutup Aurat Hanya pada Momen Keagamaan 

Orangtua menjadi teladan bagi anaknya. Prilaku anak lebih cendrung mengikuti prilaku orang tua. Bila orang tua tidak memberi teladan yang benar, jangan harap anak akan menjadi benar dalam beragama. Meskipun ada, namun sedikit.
Fakta di lapangan ditemukan, tak sedikit kaum ibu yang hanya menutup aurat  pada saat menghadiri momen-momen keagamaan. Ibu tersebut hanya menutup aurat saat menghadiri acara majelis taklim, saat shalat dan sebagainya. Di laur itu, sang ibu tidak menutup auratnya. Seperti tidak mengenakan jilbab dan lainnya.
Hal ini secara langsung memberi teladan yang salah kepada anak perempuannya. Anak jadi berfikir bahwa menutup aurat, berjibab, hanya wajib saat menghadiri momen keagamaan. Seharusnya wanita muslimah, menutup aurat pada momen apa saja. Kecuali di rumah dan tidak ada orang selain suami dan mahrom.

Kemudian, saat mengaji di Taman Pendidikan Alquran (TPA) anak-anak perempuannya dipakaikan busana menutup aurat. Namun ibunya sendiri mengantarkan anaknya ke TPA tidak menutup aurat. Mirisnya lagi, mengenakan baju lenagn pendek. Ini memberi teladan pada anak bahwa menutup aurat atau berjilbab hanya wajib saat mengaji saja.

Ini teladan salah. Karena wanita harus menutup aurat kapan saja, kecuali di rumah dan tidak ada orang lain selain suami dan mahrom. Sehingga anak tahu kewajibannya menutup aurat. Kalau keteladanan yang diberikan seperti itu, jangn heran anak mengumbar aurat saat sudah dewasa.

Itu hanya contoh kecil. Masih banyak lagi contoh-contoh lainnya. Namun contoh tersebut mudah-mudahan dipahami maksudnya.

Kesalahan Keemat: Memberikan Mainan yang Tidak Mencerminkan Kehidupan Islami

Anak dan mainan tak bisa dipisahkan. Karena masa kanak-anak adalah masa bermain. Namun perlu kita ingat bahwa mainan anak-anak akan mempengaruhi mental dan penbentukan karakter anak. Melalui mainan juga, nilai-nilai budi akan tertanam dalam jiwa sang anak.

Dalam hal ini, banyak yang tidak disadari oleh orangtua. Mereka salah memilih dan memberikan mainan pada anaknya. Mereka menganggap sepele mainan anak-anak. Orang tua beranggapan mainan tidak harus syar’i, karena hanyalah mainan.
Perlu kita camkan, bahwa mainan yang diberikan pada anak-anak merupakan media pendidikan yang akan mempengaruhi pemahaman, sikap, karakter dan mental anak kelak.

Sebagai contoh sederhana, orangtua memberikan anaknya mainan boneka berbie. Padahal boneka berbie tidak syar’i. Karena boneka berbie identik dengan perempuan mengenakan pakaian seksi tidak menutup aurat. Sehingga secara tidak langsung anak berfikir, menutup aurat bukanlah suatu kewajiban. Bahkan menutup aurat tidak keren. Yang keren justru penampilan seperti berbie. Mereka akan berani berpakaian seksi dan tidak menutup auratnya. Ini adalah kesalahan yang dilakukan orangtua.

Kemudian adalagi, orang tua yang memberikan mainan kepada anaknya berupa mainan kartu bergambar. Kemudian anak-anak akan memiankannya secara berpasang-pasangan atau berkelompok. Yang kalah harus membayar kekalahannya dengan menyerahkan kartunya kepada yang menang. Memang ini terlihat sepele, namun perlu diketahui permainan seperti ini sarat muatan judi.

Banyak lagi, mainan-mainan anak yang melanggar aturan agama. Oleh karena itu orang tua harus bijak dalam memberikan mainan  bagi anak-anaknya. Berilah mainan yang baik.  Karena saat ini sudah banyak mainan syar’i yang diciptakan orang-orang islam yang kereatif.

Bila anak meminta mainan yang tidak syar’i orang tua jangan langsung melarang tanpa memberi alasan. Laranglah, namun kemukakan alasan dan pemahaman pada anak sehingga dia mengerti kenapa itu dilarang.

Kesalahan Kelima: Pengawasan Kepada Anak Dianggap Mengekang

Saat ini kita hidup era teknologi informasi. Berbagai perangkat dan sarana digital membanjiri semua sisi kehidupan.
Diantaranya televisi. Televisi bahkan ada di setiap sudut rumah, kantor, ruang tunggu dan lain-lain. Anak bisa dengan mudah menonton siarannya.
Memang, Islam tidak tabu dengan teknologi. Islam tidak melarang umatnya berinteraksi dengan teknologi. Justru umat Islam mendorong umatnya untuk berkereasi mengambangkan teknologi.

Namun yang menjadi masalah saat ini ialah konten yang menghiasi perangkat teknologi informasi digital tersebut. Siaran televisi yang tidak islami dan menebar kemaksiatan bisa dilihat dengan mudah oleh anak-anak.

Oleh karena itu, lakukan pengawasan pada anak. Saat anak nonton TV, hendaklan didampingi. Pilihkan konten-konten yang tidak melanggar norma-norma Islam. Jauhkan anak dari sinetron dan film tidak Islami dan menebar kemaksiatan yang sudah mewabah. Mengapa? karena tontonan bisa menjadi tuntunan bagi anak, bahkan orang tua juga.
Belum lagi, perangkat android atau smartphone. Anak masih kecil sudah diberikan fasilitas itu. Padahal dengan perangkat itu anak bisa dengan mengakses internet. Di dunia internet aneka macam informasi dan konten kemaksiatan dengan mudahnya diakses. Bahkan sengaja disebarkan di berbagai situs. Oleh karena itu, orang tua tidak boleh Gagap Teknologi (Gaptek). Sehingga bisa maksimal dalam melakukan pengawasan pada anaknya.

Jadi pengawasan bukan berarti mengekang kebebasan anak. Namun kebebasan anak jangan sampai kebablasan. Pengawasan mutlak harus dilakukan orang tua agar anak menjadi shalih.

Kesalahan Keenam: Terlalu Berlebihan dalam Memanjakan Anak

Memanjalan anak sah-sah saja. Karena orang tua mana yang tak ingin melihat anaknya bahagia. Orang tua mana yang tak sayang pada anaknya. Namun jangan berlebihan dalam memanjakan anak. Karena sesuatu yang berlebihan akan berdampak buruk. Manjakan anak sekedarnya. Jangan serta merta menuruti semua kemahuannya. Tanamkan jiwa mandiri pada anak sehingga saat kita tinggalkan kelak mereka menjadi generasi tangguh.

Kesalahan Ketujuh: Salah Memberi Alasan ketika Melarang Anak

Fakta dilapangan, tak sedikit orangtua yang melarang anaknya yang ingin berbuat sesuatu dengan cara menakut-nakuti dengan sosok menyeramkan seperti hantu atau dengan memberikan alasan yang tidak rasional, syirik dan kurafat. Padahal itu semua bertentangan dengan ajarjan agama.

Ini juga kesalahan. Oleh karena itu, ketika melarang anak berbuat sesuatu, laranglah dengan benar. Berilah alasan rasional dan sesuai ajaran Islam mengapa itu dilarang. Atau boleh juga dengan memberikan alasan dari sisi kesehatan. Sehingga akidah anak menjadi benar dan lurus.
Itulah 7 fakta kesalahan yang dilakukan orang tua dalam mendidik anaknya. Masih banyak lagi fakta-fakta lain yang belum sempat diuraikan. Namun semoga yang sedikit ini bermanfaat bagi kita. Kita berusaha mendidik anak menjadi baik, dan serahkanlah hasilnya kepada Allah dengan berdoa kepadanya.  Allah Yang Maha Tahu. (*)