ISLAMIANA

Referensi Islami Masa Kini

Friday, July 19, 2019

Idul Adha identik dengan kurban. Ia sekaligus menjadi ajang berbagi sesama. Pada hari itu, semua muslim di manapun merasakan nikmatnya makan daging kurban. Bagi orang kaya mungkin makan sesuatu yang lumrah, namun hal ini sangat istimewa bagi orang yang tidak mampu. Bahkan, bisa jadi mereka hanya sekali dalam setahun makan daging.

Karena itu, sangat dianjurkan berkurban bagi orang mampu. Ibnu Rusyd dalam Bidayatul Mujtahidmenyebutkan, ulama berbeda pendapat mengenai hukum berkurban. Ulama madzhab Syafi’i dan Maliki menghukuminya sunah muakkadah. Sementara madzhab Hanafi mewajibkan kurban bagi orang mampu serta menetap, dan tidak wajib bagi musafir.

Kendati berbeda pendapat, yang terpenting mayoritas ulama sangat menganjurkan berkurban. Sebab di samping pelakunya mendapatkan pahala, kurban juga memiliki implikasi sosial. Karenanya, hampir di seluruh daerah di Indonesia, pengurus masjid atau yayasan keagamaan berusaha semaksimal mungkin mencari para donator yang ingin berkurban.

Dalam rangka meraih banyak donatur, panitia kurban juga mempermudah jalannya. Berkurban tidak harus sendiri, tetapi juga boleh patungan. Terutama untuk kurban sapi, kebanyakan masyarakat tidak mampu membelinya sendiri. Mereka biasanya patungan beberapa orang untuk membelinya. Apakah patungan kurban sapi ini diperbolehkan?

Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni mengatakan, mayoritas ulama memperbolehkan patungan kurban. Syaratnya, hewan yang dikurbankan adalah sapi dan jumlah maksimal orang yang patungan ialah tujuh orang. Berdasarkan persyaratan ini, patungan untuk kurban kambing tidak diperbolehkan dan lebih dari tujuh orang untuk kurban sapi juga tidak dibolehkan. Ibnu Qudamah menuliskan:

وتجزئ البدنة عن سبعة وكذلك البقرة وهذا قول أكثر أهل العلم

Artinya, “Kurban satu ekor unta ataupun sapi atas nama tujuh orang diperbolehkan oleh mayoritas ulama.”

Sebagaimana dikutip Ibnu Qudamah, menurut Ahmad bin Hanbal, hanya Ibnu umar yang tidak membolehkannya. Ahmad bin Hanbal mengatakan, “Kebanyakan ulama yang aku ketahui membolehkan patungan kurban kecuali Ibnu Umar.”

Pendapat Ibnu Qudamah di atas tidak jauh berbeda dengan An-Nawawi. Dalam pandangannya, patungan kurban sapi atau unta sebanyak tujuh orang dibolehkan, baik yang patungan itu bagian dari kelurganya maupun orang lain. An-Nawawi dalam Al-Majmu’ mengatakan:

يجوز أن يشترك سبعة في بدنة أو بقرة للتضحية سواء كانوا كلهم أهل بيت واحد أو متفرقين

Artinya, “Dibolehkan patungan sebanyak tujuh orang untuk kurban unta atau sapi, baik keseluruhannya bagian dari keluarga maupun orang lain.”

Kebolehan patungan kurban ini memiliki landasan kuat dalam hadits Nabi SAW. Sebagaimana yang tercatat dalam Al-Mustadrak karya Al-Hakim, Ibnu Abbas mengisahkan:

كنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم في سفر فحضر النحر فاشتركنا في البقرة عن سبعة

Artinya, “Kami pernah berpergian bersama Rasulullah SAW, kebetulan di tengah perjalanan hari raya Idul Adha (yaumun nahr) datang. Akhirnya, kami patungan membeli sapi sebanyak tujuh orang untuk dikurbankan,” (HR Al-Hakim).

Jabir bin ‘Abdullah juga pernah mengisahkan:

كنا نتمتع مع رسول الله صلى الله عليه وسلم بالعمرة، فنذبخ البقرة عن سبعة نشترك فيها

Artinya, “Kami pernah ikut haji tamattu’ (mendahulukan ‘umrah daripada haji) bersama Rasulullah SAW, lalu kami menyembelih sapi dari hasil patungan sebanyak tujuh orang.” (HR Muslim).

Dari beberapa pendapat di atas, serta didukung oleh hadits Nabi SAW, dapat disimpulkan bahwa patungan untuk membeli sapi yang akan dikurbankan diperbolehkan dengan syarat pesertanya tidak lebih dari tujuh orang. Hal ini dikhususkan untuk sapi dan unta saja, sementara kambing ataupun domba hanya boleh untuk satu orang, tidak boleh patungan bila niatnya untuk kurban. Wallahu a’lam. (NO)

Saturday, July 13, 2019

Sahabat Islamiana- Lelaki yang sudah menikah dan beristri cendrung akan melihat wanita lain lebih cantik daripada istrinya sendiri. Meskipun sebenarnya istrinya lebih cantik. Bak kata pepatah rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri.
Kenapa demikian. Secara manusiawi ada beberapa hal yang melatarbelakanginya. Diantaranya rasa jenuh, sehingga istri yang cantik akan terlihat biasa. Kemudian pemandangan atau sesuatu yang lain akan membuat manusia “Tergerak” untuk tertarik secara visual. Kemudian manusia memang mendambakan yang tidak bisa didapatkan.
Jadi masalah ini sesungguhnya bukan terletak pada istri, tapi terletak pada hati dan mata lelaki.
Mata dan hati manusia cendrung tidak akan pernah puas, kecuali jika sudah tertutup tanah kuburan.

عَنْ عَبَّاسِ بْنِ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ الزُّبَيْرِ عَلَى الْمِنْبَرِ بِمَكَّةَ فِى خُطْبَتِهِ يَقُولُ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَقُولُ « لَوْ أَنَّ ابْنَ آدَمَ أُعْطِىَ وَادِيًا مَلأً مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَانِيًا ، وَلَوْ أُعْطِىَ ثَانِيًا أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَالِثًا ، وَلاَ يَسُدُّ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ
Dari Ibnu ‘Abbas bin Sahl bin Sa’ad, ia berkata bahwa ia pernah mendengar Ibnu Az Zubair berkata di Makkah di atas mimbar saat khutbah, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Seandainya manusia diberi satu lembah penuh dengan emas, ia tentu ingin lagi yang kedua. Jika ia diberi yang kedua, ia ingin lagi yang ketiga. Tidak ada yang bisa menghalangi isi perutnya selain tanah. Dan Allah Maha Menerima taubat siapa saja yang mau bertaubat.” (HR. Bukhari no. 6438)
Lalu apakah engkau ingin istrimu kembali seperti dulu, menjadi wanita terindah di dunia ini?
Pejamkanlah matamu dari hal-hal yang haram, ketahuilah, orang yang merasa cukup dengan suatu yang halal, maka dia akan diberi kenikmatan yang sempurna di dalam barang halal tersebut. (Waulohu 'Alam)

Friday, July 12, 2019

Sahabat Islamiana, Ulama sepakat atas keharaman praktik suap atau uang sogok (risywah) dalam bentuk apapun. Sejumlah dalil agama jelas mengecam praktik suap sebagaimana Al-Baqarah ayat 188 berikut ini:
وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya, “Janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan batil, dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui,” (Al-Baqarah ayat 188).

Selain Al-Quran, Rasulullah SAW juga mengecam keras tindakan tercela ini. Kecaman atas praktik suap ini dimaknai oleh para ulama sebagai sebuah larangan sebagaimana riwayat sejumlah perawi berikut ini:

عن عبد الله بن عمرو قال لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ

Artinya, “Dari Abdullah bin Amr, ia berkata bahwa Rasulullah SAW melaknat orang yang melakukan penyuapan dan yang menerima suap,” (HR Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad).

Praktik suap ini tidak hanya melibatkan penerima dan pemberi suap. Praktik ini juga memasukkan di dalamnya pihak perantara keduanya. Artinya, pihak ketiga yang menjadi perantara juga termasuk orang yang mendapat kecaman Rasulullah SAW sebagai keterangan Al-Habib Abdullah bin Husein Ba‘alawi:

وقَدْ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ والرَّائِشَ وهو السَاعِي بَيْنَهُمَا

Artinya, “Rasulullah SAW melaknat orang yang melakukan penyuapan, yang menerima suap, dan orang yang menjadi perantara antara keduanya,” (Lihat Al-Habib Abdullah bin Husein Ba‘alawi, Is‘adur Rafiq wa Bughyatus Shadiq, Surabaya, Al-Hidayah, tanpa keterangan tahun, juz II, halaman 100).

Sampai di sini jelas bahwa praktik suap adalah dosa besar dan perbuatan tercela dalam syariat Islam. (*)


Wednesday, June 26, 2019

ISLAMIA.NET- Maladewa adalah negara yang identik dengan pantai yang memesona dan pengalaman menyelam yang menakjubkan. Tapi, banyak orang di dunia yang melewatkan sejarah negara kepulauan ini, yang 100 persen penduduknya adalah Muslim. 

Dalam konstitusi Maladewa disebutkan, Islam adalah agama wajib bagi seluruh warganegaranya. Dengan itu, tidak ditemukan satupun warganegara Maladewa non-Muslim di ratusan pulau kecil yang ditemukan oleh pelaut dan pedagang Arab pada abad ke-12 tersebut. 

Sementara di Ibukota Maladewa, Male, terdapat makam Abu al-Barakat Yusuf al-Barbari. Laman Aljazeera.net menyebutkan, dari namanya, Abu al-Barakat diduga adalah seorang Dai asal Amazigh Maroko yang mengakhiri perjalanan dakwahnya di salah satu pulau yang ada di Maladewa. 

Ketika itu, Sultan Maladewa masuk Islam di hadapan Abu Barakat, yang kemudian diikuti oleh seluruh penduduknya yang beragama Budha. Sultan kemudian membangun masjid dan madrasah sebagai sarana untuk mengajarkan agama yang baru dipeluk masyarakat itu. 

Islam dan Maladewa

Sebelum Islam, penduduk Maladewa memiliki satu ritual yang cukup memberatkan, yaitu mengorbankan gadis untuk sosok yang mereka sebut sebagai 'Iblis Lautan'. Setiap bulan, suku-suku di Maladewa akan memilih seorang gadis akan dikorbankan untuk memedamkan kemarahan 'Rannamari'.

Penjelajah Muslim asal Maroko, Ibnu Batutah, juga menggambarkan adat dan kebiasaan penduduk Maladewa saat ia mengunjungi kawasan ini pada abad ke-14 lalu. 

Dalam dokumentasinya, Ibnu Batutah mengisahkan Abu Barakat yang seorang penghafal Al-Quran singgah di rumah seorang tua di Maladewa. Orang tua tersebut menangis sampai kehabisan air mata. Usut punya usut, ternyata kediaman si orang tua diharuskan untuk berkorban sebagaimana adat dan kebiasaan, sementara orang tua itu hanya memiliki seorang anak gadis. 

Mendengar itu, Abu Barakat lalu menawarkan diri kepada orang tua untuk menjadi pengganti bagi anak gadisnya, yang artinya ia harus dibunuh oleh jin. Pada malam hari, Abu Barakat menyelinap ke dalam bangunan berhala dan berdiam diri di sana dalam keadaan berwudlu. 

Pagi harinya, si orang tua dan seluruh penduduk datang ke bangunan itu dengan maksud membawa keluar gadis yang telah dikurbankan untuk dibakar, sesuai adat mereka. Namun mereka terkejut. Pasalnya, mereka justru mendapati Abu Barakat sedang melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran, dan tidak terbunuh. 

"Warga kemudian membawa Abu Barakat kepada raja mereka. Mereka lalu menceritakan fakta yang baru saja terjadi. Raja pun terkejut. Ketika ditanya, Abu Barakat menjelaskan tentang Islam kepada sang Raja. Lalu, Raja berkata 'bulan depan, lakukan lagi (berdiam di bangunan berhala untuk dibunuh jin), jika kamu selamat maka aku masuk Islam," tutur Ibnu Batutah mengisahkan perjalanan Abu Barakat. 

Pada bulan selanjutnya, Abu Barakat melaksanakan permintaan dari sang Raja. Lagi-lagi ia dapat lolos dari jin kepercayaan warga di pulau itu. 

Ibnu Batutah melanjutkan kisahnya, "Lalu Raja dan seluruh penduduk pulau itu masuk Islam. Abu Barakat mendapat tempat yang sangat mulia di sisi penduduk. Penduduk juga bermazhab dengan Mazhab Imam Malik, sesuai yang dianut Abu Barakat. Bahkan, penduduk juga membangun masjid dan diberi nama Abu Barakat."

Memang, Islam tergolong akhir masuk ke Maladewa, yaitu abad ke-12. Namun begitu, banyak sejarawan dan pengamat menilai fakta sejarah tersebut sebagai titik tolak yang sangat penting bagi Maladewa. 


Setelah masuk Islam, Raja Maladewa yang sebelumnya beragama Budha itu kemudian mengubah namanya menjadi Sultan Mohamad al-Adel. Sejak itu, Kesultanan Islam di Maladewa berlangsung hingga tahun 1965 ketika negara itu mengadopsi pemilihan umum dalam sistem pergantian pemerintahannya. 

Gelar resmi Sultan Maladewa hingga tahun 1965 adalah 'Yang Mulia Sultan Bumi dan Laut, Penguasa Dua Belas Ribu Pulau dan Sultan Maladewa'. 

Secara historis, bahasa Arab juga menjadi bahasa resmi yang digunakan oleh Kesultanan. Padahal, negara-negara Islam di kawasan itu lebih banyak menggunakan bahasa Persia dan Urdu. Madrasah Fiqih Maliki juga menjadi sekolah resmi di kepulauan tersebut hingga abad ke-17.

RMOL.ID
Penting kiranya faham akan urgensi riwayat hidup para Ulama Salaf. Kenapa para Imam Mazhab seperti Imam Abu Hanifah, Malik, Syafi'i dan Ahmad, tidak menggunakan hadits shahih Bukhari dan shahih Muslim yg katanya merupakan 2 kitab hadits tershahih? Untuk tahu jawabannya, kita mesti paham sejarah.

Imam Abu Hanifah lahir tahun 80 H, imam Malik lahir tahun 93 H, imam Syafii lahir tahun 150 H dan Imam Ahmad lahir tahun 164 H.

Sedangkan imam Bukhori lahir tahun 196 H, Imam Muslim lahir tahun 202 H.
Artinya para imam Madzhab lebih dahulu lahir dari kedua muhadist tersebut.

Lalu, apakah hadits para Imam Mazhab lebih lemah dari Shohih Bukhari dan Shohih Muslim?

Jawabannya, justru sebaliknya.
Hadits-hadits para imam mazhab lebih kuat dari hadits - hadits para Imam Hadits, karena para imam mazhab hidup lebih awal daripada Imam - imam Hadits, Rosululloh bersabda :
خير الناس قرْني ثم الذيْن يلونهم ثم الذين يلونهم
Sebaik-baik manusia adalah pada kurunku, kemudian kurun sesudahnya (sahabat), kemudian yg sesudahnya (Tabi’in).” (HR. Mutafaqun Alaih)

Jadi kalau ada manusia zaman sekarang yg mengklaim sebagai ahli hadits, lalu menghakimi bahwa pendapat imam - imam Mazhab adalah salah dengan menggunakan alat ukur hadits - hadits Shohih Bukhori + Muslim, maka boleh dibilang orang itu adalah TIDAK PAHAM tarikh (sejarah).

Sadarilah oleh kita, bahwa para Imam Mazhab itu, seperti Imam Malik melihat langsung cara sholat puluhan ribu anak - anak sahabat Nabi di Madinah. Anak - anak sahabat ini belajar langsung ke Sahabat Nabi yang jadi bapak mereka. Jadi lebih kuat ketimbang 2-3 hadits yang diriwayatkan Imam Bukhori 100 tahun kemudian.

Bahkan Imam Abu Hanifah bukan hanya melihat puluhan ribu anak-anak para sahabat, melainkan beliau telah berjumpa langsung dengan para sahabat Rasulullah.

Bahkan Imam Bukhori dan Imam Muslim, meski termasuk pakar hadits PALING TOP, mereka tetap bermazhab. Mereka mengikuti mazhab Imam Syafi’ie.

Berikut ini di antara para Imam Hadits yg mengikuti Mazhab Syafi’ie : imam Bukhori, Muslim, Abu Daud, an Nasa’i, Baihaqi, atTurmudzi, Ibnu Majah, Ibnu Hajar Asqalani, an Nawawi, as-Suyuti, Ibnu Katsir dan lain-lain.

"Jika ada hadits yang (nampaknya) bertentangan dengan ajaran Imam Mazhab, maka yang kita pakai adalah ajaran Imam Mazhab. Bukan hadits tersebut"

Kenapa ssepertiitu?
Karena para Imam Hadits saja bermazhab.
Hampir seluruh imam Hadits, sekitar 75% mengikuti Mazhab imam Syafi’i.

Kenapa para imam hadits itu tidak pakai hadits mereka sendiri? Karena keilmuan agama mereka masih jauh di bawah para imam mazhab yang mengerti berbagai disiplin ilmu.

Cukup banyak orang awam yang tersesat karena mendapatkan informasi yang sengaja disesatkan oleh kalangan tertentu yang penuh dengan rasa dengki dan benci.
Menurut kelompok itu, Imam Mazhab yang 4 (Maliki, Hanafi, Syafi'i dan Hanbali) itu kerjaannya cuma merusak agama dengan mengarang-ngarang agama dan menambah-nambahi seenaknya.
Itulah fitnah kaum akhir zaman terhadap ulama salaf yang asli.

Padahal Imam Mazhab tersebut menguasai banyak hadits. Imam Malik merupakan penyusun Kitab Hadits al Muwaththa. Dengan jarak hanya 3 level perawi hadits ke Nabi, jelas jauh lebih murni ketimbang Shohih Bukhori yang jaraknya ke Nabi bisa sampai 6-7 level panjangnya.

Begitu juga dengan Imam Syafii, selain mumpuni ilmu Fiqih, ilmu ushul fiqih, ilmu balaghoh, ilmu tafsir, dan disiplin ilmu - ilmu agama lainnya, beliau juga sangat mumpuni dalam ilmu hadits. Beliau memiliki kitab hadits yang dikenal dengan nama Musnad Imam Syafii.

Sama halnya dengan Imam Ahmad, yang menguasai 750.000 hadits lebih dikenal sebagai Ahli Hadits ketimbang Imam Mazhab.

Jadi, kesimpulannya kenapa Para imam mazhab yang empat, sama sekali tidak pernah menggunakan hadits yang diriwayatkan oleh imam Bukhori -Muslim?

Pertama, karena mereka lahir jauh lebih dulu sebelum Imam Bukhori (Lahir 194 H) dan Imam Muslim (204 H dilahirkan).
Kedua, karena keempat imam mazhab itu merupakan pakar hadits paling top di zamannya. Tidak ada ahli hadits yang lebih baik dari mereka.

Ketiga, karena keempat imam mazhab itu hidup di zaman yang lebih dekat kepada Rosululloh dibanding Imam Bukhori, Muslim, maka hadits mereka lebih kuat dan lebih terjamin keasliannya ketimbang di masa - masa berikutnya.

Jika dalam teknologi, makin baru maka makin canggih. Seperti Komputer, HP, dsb makin ke sini makin bagus kualitasnya. Tapi kalau hadits Nabi, justru makin lama makin murni. Lebih dekat ke sumbernya, Rosululloh SAW.

Keempat justru Imam Bukhori, Muslim malah bermazhab Syafi’ie. Hal itu karena hadits yang mereka kuasai jumlahnya tidak memadai untuk menjadi Imam Mazhab.

Imam Ahmad berkata, untuk menjadi mujtahid, selain harus hafal Al Qur’an, juga harus menguasai minimal 500.000 hadits. Nah hadits Shohih yang dibukukan Imam Bukhori cuma 7000-an. Sementara Imam Muslim cuma 9000-an. Tidak cukup.

Ada beberapa tokoh yang anti terhadap Mazhab Fiqih yang 4 itu kemudian mengarang-ngarang sebuah nama khayalan yang tidak pernah ada dalam sejarah, yaitu "manhaj salaf ”.

Mereka talfiq mencampur sesuai selera dalam hal ber madzhab. Seolah-olah jika tidak ber manhaj salaf berarti tidak mengikuti ulama salaf?

Jikalau ada yang namanya manhaj salaf yang berfungsi sebagai metodologi istimbath hukum, lalu mana ushul fiqihnya?

Mana kaidah - kaidah yang digunakan dalam mengistimbathkan hukumnya?
Apakah cuma sekedar menggunakan sistem gugur, bila ada dua hadits, yang satu kalah shahih dengan yang lain, maka yang kalah dibuang? Lalu yang shohih wajib diikuti?
Lalu bagimana kalau ada hadits sama-sama dishohihkan oleh Bukhori dan Muslim, tetapi isinya bertentangan dan bertabrakan tidak bisa dipertemukan?

Imam Syafi’ie membahas masalah kalau ada beberapa hadits sama-sama shahihnya tetapi matannya saling bertentangan, apa yang harus kita lakukan?
Beliau telah menulis kaidah itu dalam kitabnya Ikhtilaaful Hadits.

Jika hanya baru tahu suatu hadits itu shohih, pekerjaan melakukan istimbath hukum belumlah selesai. Meneliti keshohihan hadits baru langkah pertama dari 23 langkah dalam proses istimbath hukum, yang hanya bisa dilakukan oleh para mujtahid.

Entah orientalis mana yang datang menyesatkan, tiba-tiba muncul generasi yang awam agama dan dicuci otaknya, dengan lancang menuduh keempat imam mazhab itu sebagai bodoh dalam ilmu hadits.

Hadits shahih versi Bukhori dibanding-bandingkan secara zahir dengan pendapat keempat mazhab, seolah-olah pendapat mazhab itu buatan manusia dan hadits shohih versi Bukhori itu datang dari Alloh yang sudah pasti benar. Padahal cuma Al Qur’an yang dijamin kebenarannya.
Hadits shohih secara sanad, belum tentu shohih secara matan.

Meski banyak hadits yang mutawattir secara sanad, sedikit sekali hadits yang mutawattir secara matan.

Orang - orang awam itu dengan seenaknya menyelewengkan ungkapan para imam mazhab itu dari maksud aslinya :
“Bila suatu hadits itu shohih, maka itulah mazhabku”.

Kesannya, para imam mazhab itu tidak paham dengan hadits shohih, lalu menggantungkan mazhabnya kepada orang - orang yang hidup jauh setelahnya hanya dengan berdasarkan hadits shohih.

Padahal para ulama mazhab itu menolak suatu pendapat, karena menurut mereka hadits yang mendasarinya itu tidak shohih. Maka pendapat itu mereka tolak sambil berkata, ”Kalau hadits itu shohih, pasti saya pun akan menerima pendapat itu. Tetapi berhubung hadits itu tidak shohih menurut saya, maka saya tidak menerima pendapat itu”.

Yang bicara bahwa hadits itu tidak shohih adalah profesor ahli hadits, yaitu para imam mazhab sendiri. Maka wajar kalau mereka menolaknya. Kalimat ungkapan tersebut untuk mereka para mujtahid bukan untuk kita para mukaliddin (pengekor ulama). (*)

Wallahu a'lam.

Sunday, June 16, 2019

Foto: Gus Baha saat menyampaikan kajian

Salah satu kebiasaan buruk manusia ialah suka membawa-bawa nama Allah untuk kepentingan dirinya. Seolah-olah apa yang ada dalam pikirannya selalu sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah. Padahal sejatinya kadang justru malah berkebalikan. “Ini bisa membuat Allah tersinggung.” kata Gus Baha.

Gus Baha seringkali memberikan contoh tentang bagaimana Allah tersinggung bila ada hamba-Nya membawa-bawa nama Allah untuk kepentingan egonya. Salah satu contohnya, Gus Baha menyebutkan dalam Shahih Muslim dikisahkan ada seorang lelaki yang merasa dirinya benar karena ibadahnya.

“Ini riwayat shahih. Tidak bisa tidak.” tegas gus Baha.

“Ada orang sedang bersujud. Sujud iku apik-apike ibadah. Sujud itu merupakan salah satu ibadah terbaik.”

Ketika Kang Fulan ini sedang bersujud, ada seorang ahli maksiat yang menginjak kepalanya. Ketika diinjak, Kang Fulan marah. Saking marahnya, dia bilang, “Fawallahi. Laa yaghfirulllahu laka. Demi Allah. Kamu tidak akan diampuni Allah.”

Merespon kejadian itu, Allah memberi wahyu kepada seorang Nabi. “Beri tahu kepada si Fulan yang sedang sujud itu. Bilang padanya, bagaimana mungkin dia mengatasnamakan sifatku pada seorang hambaku.” Maksudnya dia membawa-bawa nama Allah karena kemarahan dalam dirinya sehingga seolah-olah Allah tidak mungkin mengampuni orang yang menginjak kepalanya.

Gus Baha melanjutkan, “Beri tahu kepada si Fulan kalau Aku mengampuni orang yang menginjak kepalanya dan Aku tidak menerima sujudnya.”

Dalam hal ini, kata Gus Baha, para ulama hadis sepakat kalau Allah tidak suka namanya dicatut atau dibawa-bawa oleh orang lain. Apalagi dalam kasus ini. Mana mungkin Allah yang memiliki sifat Ghafuur (zat yang maha banyak mengampuni) kok tidak mengampuni dosa orang lain. Sedangkan si Fulan malah menuduh Allah tidak mungkin mengampuni. Ini suatu yang sembrono.

Betapa saat ini banyak orang yang marah entah karena apa lalu membawa-bawa nama Allah untuk menghakimi orang lain. Ini biasanya dilakukan oleh kelompok ekstremis dan orang yang suka memvonis bidah. Jadi kita semua harus berhati-hati. Jangan gampang mengatasnamakan Allah untuk memenuhi ego kita. Maka, kata Gus Baha, kita harus mengaji lagi agar tahu sesuatu yang benar dan yang salah.

Saturday, March 30, 2019



Islamiana.net-Pemerintah Brunei Darussalam akan menerapkan hukum atau Undang-Undang baru tentang LGBT bagi penduduk muslim.

Dijutip abc.net.au, Selasa (26/3/2019), Brunei Darussalam akan menerapkan Undang-Undang yang mana pelaku LGBT dikenai hukuman cambuk atau dirajam sampai mati.

Undang-Undang itu dikabarkan akan segera disahkan pada 3 April 2019 mendatang.

Awalnya, Brunei Darussalam sebenarnya sudah menerapkan Undang-Undang yang menyebut pelaku homoseksualitas adalah ilegal dan harus dipenjara 10 tahun.

Namun kini Brunei Darussalam menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang menerapkan hukuman cambuk dan rajam hingga tewas untuk LGBT.

Brunei Darussalam juga menjadi satu di antara negara-negara Asia pengusung budaya ketimuran dengan Undang-Undang syariah di tahun 2014.

Undang-Undang syariah tersebut berisi hukuman penjara dalam kasus hamil di luar nikah dan tidak mengikuti salat Jumat.

Matthew Woolfe yang merupakan pendiri kelompok hak asasi manusia The Brunei Darussalam Project, mengungkap tindakan pelaku LGBT yang bisa dikenai hukuman.

Di antaranya adalah menjalin hubungan sesama jenis, perzinahan, sodomi, dan pemerkosaan.

Kelompok hak asasi manusia asal Manila, ASEAN SOGIE membenarkan bahwa pemerintah Brunei Darussalam akan mengesahkan Undang-Undang syariah terbaru itu.

Departemen Perdana Menteri Brunei Darussalam Darussalam hingga kini belum menanggapi segala pertanyaan yang dikirim ke email mereka.

Brunei Darussalam adalah negara bekas jajahan Inggris yang terletak di antara perbatasan Malaysia dan Indonesia.
Brunei Darussalam memiliki penduduk sekitar 400 ribu jiwa yang mana 67 persennya adalah muslim.

Maka dari itu mayoritas penduduk Brunei Darussalam tunduk pada hukum syariah dari sultan mereka, Hassanal Bolkiah.
Diketahui pelaku LGBT dihukum mati di negara mayoritas muslim, seperti Yaman, Arab Saudi, dan Mauritania***