ISLAMIANA

Referensi Islami Masa Kini

Wednesday, December 12, 2018

Sahabat Islamiana.  Setiap kita pasti akan mati. Dalam proses kematian kita akan menghadapi pristiwa Sakarotul Maut. Inilah yang paling ditakuti kebanyakan manusia, karena dahsyatnya Sakarotul Maut.

Bagaimana kedahsyatan Sakarotul Maut.?
Imam Ghozali mengatakan bahwa, “Demi Allah, seandainya jenazah yang sedang kalian tangisi bisa berbicara sekejab, lalu menceritakan (pengalaman sakaratul mautnya) pada kalian, niscaya kalian akan melupakan jenazah tersebut, dan mulai menangisi diri kalian sendiri”. (Imam Ghozali mengutip atsar Al-Hasan).

Rasulullah SAW bersabda bahwa, "Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang." (HR. Tirmidzi)

Kemudian Rasulullah SAW juga bersabda bahwa, "Kematian yang paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang tersobek ?" (HR Bukhari)
.
Imam Ghozali bahkan berpendapat bahwa sakaratul maut ibarat sebatang pohon berduri yang dimasukkan dalam perut seseorang. Kemudian seorang lelaki menariknya dengan sekuat-kuatnya sehingga ranting itupun membawa semua bagian tubuh yang tersengkut padanya dan meninggalkan yang tersisa.

"Rasa sakit yang dirasakan selama sakaratul maut seperti menghujam jiwa san menyebar ke seluruh anggota tubuh sehingga bagian orang yang sedang sekarat merasakan bahwa dirinya ditarik-tarik dan dicabut dari setiap urat nadi, urat syaraf, persendian, dan dari setiap akar rambut serta kulit kepala hingga kaki." kata Imam Ghozali.

Namun sebenarnya tak perlu kita takut. Karena takut pun tak ada mengubah keadaan, kita tetap akan merasakan Sakarotul Maut. Justru yang harus kita lakukan adalah mempersiapkan diri menghadapi hal itu.

Bersemangatlah dalam beribadah hanya karena Allah. Selalu berbuat kebajikan. Yakinlah saat Sakarotul Maut kadahsyatan itu akan sirna karena dua malaikat yang menghibur kita. Waulohu A'lam.

Friday, November 23, 2018

Islamiana.net - Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Tinur sukses mengembangkan ekonomi syariah.  Dengan lembaga Baitul Mal wa Tamwil (MBT) UGT, pesantren tersebut terus melebarkan sayapnya ke berbagai wilayah di seluruh penjuru Indonesia. 

Bahkan kini, pesantren tersebut menjadi rujukan tempat belajar ekonomi syariah pesantren lain dan menjadi rujukan para mahasiswa, dosen, dan peneliti yang ingin tahu lebih dalam kiat kesuksesan mereka. Sehingga pengembangan ekonomi syariah di pesantren ini layak menjadi percontohan dunia.


Karena banyaknya pihak yang ingin belajar ekonomi syariah ini, akhirnya dibentuklah Shariah Business Centre (SBC) Sidogiri, yang merupakan Lembaga Diklat Profesi Koperasi Jasa Keuangan Syariah (LDP KJK) yang  bergerak di bidang pelatihan untuk penyediaan Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal di bidang koperasi syariah. Selain memberikan layanan pelatihan, SBC Sidogiri juga menyediakan jasa konsultan dan pendampingan UKM dengan pola atau sistem syariah

Tentu saja kesuksesan yang kini diraih itu tidak datang dengan tiba-tiba. Banyak aral melintang dan hambatan yang harus dilaluinya. Tetapi berbagai kesulitan itu tidak membuat para para pengagas BMT Syariah di Sidogiri patah semangat, melainkan dijadikan sebagai penghela semangat untuk terus belajar. Kini mereka telah memetik hasil dari proses belajar yang sulit dan secara hati-hati terus mengembangkan usahanya. Koperasi Syariah Sidogiri telah memiliki anggota 8.871 orang, 256 Cabang, di 10 Propinsi, jumlah simpanan 165 Milyar, aset 1,2 Triliun, dengan omset 13.6 Triliun rupiah

Bagaimana awal mulanya pengembangan ekonomi syariah ini berkembang. Seperti pesantran-pesantren lainnya, kajian kitab kuning merupakan “makanan” sehari-hari. Dalam bab muamalah, pembahasan tentang riba secara gamblang dibahas. Pengasuh pesantren Sidogiri KH Nawawi Thoyib merasa tak bisa lepas tangan dengan kondisi masyarakat di sekitarnya yang dicekik oleh renternir, sementara mereka hanya berdiam diri dan mengharamkan saja tanpa mampu berbuat sesuatu. Dengan tekad bulat, pada 1993 ia mulai membantu masyarakat mengganti pinjaman dari renternir dengan pinjaman tanpa bunga.

Teladan yang diberikan oleh pengasuh pesantren tersebut memberi inspirasi para ustadz muda waktu itu seperti Ust H. Mahmud Ali Zain, yang kini menjadi tokoh penting dalam koperasi syariah Sidogiri. Mereka berusaha belajar dan mencari jejaring yang terkait dengan pengembangan ekonomi syariah. Pada tahun 1990an, Konsep simpan pinjam berbasis syariah masih langka, tetapi hal itu tidak menyurutkan langkahnya untuk mencari ilmu. Upayanya tak sia-sia, salah satunya mereka mendapatkan akses mengirimkan 10 orang untuk mengikuti pelatihan BMT dari sebuah Bank Syariah yang mulai diizinkan beroperasi di Indonesia.

Dari situlah kemudian dilanjutkan dengan pendirian Koperasi BMT yang diberi nama Baitul Mal wat-Tamwil Maslahah Mursalah lil Ummah dengan anggota para guru MMU (Madrasah Miftahul Ulum) Pondok Pesantren Sidogiri. Koperasi ini secara resmi didirikan pada tanggal 12 Rabi’ul Awal 1418 H (ditepatkan dengan tanggal lahir Rasulullah SAW) atau 17 Juli 1997 di kecamatan Wonorejo Pasuruan.

Setelah bermusyawarah dan mensosialisasikan cita-cita mulia ini, terdapat 148 orang yang bersedia menjadi anggota dan berhasil dikumpulkan modal sebanyak 13.5 juta rupiah. Koperasi itu mulai usahanya dengan menyewa kantor seluas 16 meter persegi. Dari tempat kecil inilah, para pelopor ekonomi syariah dari Sidogiri mulai berupaya ilmu yang diperoleh dari pesantren dan pelatihan. 

Pelan tapi pasti, dengan mengedepankan sikap profesional, memisahkan antara manajemen pesantren dan manajemen ekonomi, koperasi tersebut berkembang dengan baik. Hal ini membuat komunitas Sidogiri yang lebih luas, khususnya para guru dan alumni menginginkan pendirian koperasi dalam skup yang lebih luas. Maka pada tanggal 05 Rabiul Awal 1421 H (juga bertepatan dengan bulan lahirnya Rasulullah SAW) atau 22 Juni 2000 M diresmikan dan dibuka satu unit Koperasi BMT UGT Sidogiri di Jalan Asem Mulyo 48 C Surabaya. Seperti pendahulunya, BMT ini berjalan dengan baik. Dengan target pasar yang memang luas, BMT UGT Sidogiri mampu melayani konsumen dalam jangkauan yang luas dan kini menjadi perbincangan nasional.

Kini Sidogiri bukan lagi sekedar pesantren yang mengajarkan kitab kuning, melainkan telah menjadi Lembaga Ekonomi dan Sosial dibawah payung Sidogiri Network Forum (SNF) dengan serangkaian usaha yang meliputi (1) koperasi pesantren, (2) BMT Maslahah, (3), BMT UGT Usaha Gabungan Terpadu (4) BPR Syariah Ummu (jasa Keuangan), (5) koperasi Agro, (6) SBC Sidogiri (Diklat Profesi Jasa Keuangan Syariah), (7) LAZ Sidogiri (Lembaga Amil Zakat), (8) L-KAF Sidogiri (Lembaga Wakaf), (9) IASS Sidogiri (Ikatan Alumni Santri), (10) majalah Buletin Sidogiri, dan (11) Penerbitan Pustaka Sidogiri.

Seiring dengan semakin bertambahnya kepercayaan masyarakat, luasnya jaringan alumni, bertambahnya akses modal dan pengalaman. Tak diragukan lagi, upaya dakwah ekonomi yang secara langsung menyentuh lapisan akar rumput akan terus berkembang. Dakwah tak sekedar bil lisan, tetapi juga bil hal atau dengan aksi nyata. Model seperti inilah yang akan memberikan hasil yang dahsyat. 

Upaya pengembangan ekonomi berbasis pesantren yang kini gencar dilakukan, baik oleh masyarakat maupun oleh pemerintah melalui Kemenag, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan lembaga pemerintah lainnya mendapat partner yang baik yang bisa mendampingi pesantren lain yang ingin belajar ekonomi syariah. Sidogiri paham betul tradisi pesantren dan tahu apa yang harus dilakukan agar kegiatan ekonomi pesantren ini bisa tumbuh. (Mukafi Niam/NU Online)

Thursday, November 22, 2018


Sahabat Islamiana. Sebagai manusia biasa sulit bagi kita untuk terlepas dari dosa. Utamanya dosa kecil. Oleh karena itu hal yang harus kita lakukan adalah meminimalisir dosa tersebut dan tidak menyepelekan hal-hal kecil.
Karena memang, kita terkadang kerap meremehkan dosa-dosa kecil, padahal jika dosa kecil sering dilakukan maka lama-lama akan menjadi dosa besar.

Hal tersebut sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Tidak ada dosa besar jika dihapus dengan istighfar (meminta ampun pada Allah) dan tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus menerus.”(HR Baihaqi)
Jadi janganlah kita anggap sepele dosa kecil.  Karena bila kita lakukan berulang-ulang akan menjadi besar.

Dari sekian banyak dosa kecil ada dua dosa kecil yang kerap disepelekan. Padahal karenanya dapat mengakibatkan azab kubur amat pedih. Apa itu?

Dua dosa yang dianggap remeh tapi mendatangkan siksa kubur pedih itu adalah tidak menjaga diri dari air kencing dan namimah alias mengadu domba.

Untuk urusan menjaga tubuh agar tak terkena najis, para ulama memiliki pendapat paling keras. Para ulama kebanyakan mendasari pendapat mereka pada hadis yang diriwayatkan Bukhari.

Hadis itu muncul saat Nabi Muhammad SAW dan para sahabat sedang melewati pemakaman. Di tengah perjalanan, Nabi mendengar siska kubur yang dialami mayat di dalamnya.

“Keduanya disiksa dan tidaklah keduanya disiksa karena dosa besar,” lalu Nabi Muhammad melanjutkan "Benar, sebenarnya itu dosa besar, salah satunya disiksa karena tidak menjaga diri saat buang air kecil dan yang satu lagi disiksa karena namimah (mengadu domba).” (HR. Bukhari)

Dosa pertama yaitu tak menjaga air kencing. Pendapat para ulama yang paling kuat adalah tidak menjaga diri dan pakaian pada saat buang air kecil sehingga terciprat najis. Akibatnya, tubuh atau pakaiannya terkena najis dan menjadikan shalatnya tidak sah. Sebab di antara syarat sah shalat adalah suci badan, pakaian dan tempat shalat dari najis.

Dosa kedua adalah namimah. Mengadu domba antar dua orang atau pihak agar bermusuhan. Di zaman sekarang, hal ini juga sering dianggap remeh. Sebagai contoh karena alasan karir, dua orang difitnah hingga bermusuhan. Karena alasan bisnis, dua pesaing dibuat agar saling membenci. Dan sebagainya. Apa lagi di era digital seperti saat ini, adudomba di media sosial dengan mudahnya bisa dilakukan.
Oleh karena itu, hendaklah kita berhati-hati dalam menyikapi hal-hal sepele  dosa yang kita anggap kecil yang sebenarnya bisa mendapatkan siksa kubur yang teramat pedih. Mudah-mudahan kita diberikan kekuatan untuk menjauhi dosa kecil terlebih dosa besar. Amin. Waulohu A'lam.**

Thursday, November 8, 2018



Bersalaman lelaki dan perempuan yang bukan mahram seolah sudah menjadi kebiasaan. Realitanya, sebagian masyarakat menganggap hal tersebut tidak masalah.

Padahal bersalaman atau berjabat tangan antara lelaki dan perempuan bukan mahram jelas haram hukumnya. Ma'qil bin Yasir ra. menyatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, yang artinya:

"Sungguh, lebih baik kepala seorang diantara kalian ditusuk dengan jarum jahit yang terbuat dari besi daripada menyentuh seorang wanita yang tidak halal baginya," (HR. Thabrani)

Karenanya Rasulullah saw. tidak pernah berjabat tangan dengan wanita dan tidak menerima bai'at mereka kecuali dengan ucapan.

Aisyah ra. berkata "Demi Allah, tangan Rasulullah saw. sama sekali tidak pernah menyentuh tangan wanita ketika membaiatnya. Beliau hanya mengatakan 'Aku telah membaiatnya dengan berkomitmen kepada semua itu,"

Oleh karena itu, sedaya upaya untuk tidak berjabat tangan dengan wanita bukan mahram. Meskipin kita mendapatkan uluran tangan. Karena memang agama kita Islam melarangnya. Oleh karena itu hendaknya kita menegakkan syariat tersebut. 

Namun meskipun dilarang berjabat tangan, wanita atau lelaki boleh mengucapkan salam bila bertemu atau berpapasan dengan tampa bersalaman atau berjabat tangan. Tentunya jika tidak akan menimbulkan fitnah. Waulohu 'Alam. *

Wednesday, November 7, 2018

Sahabat Islamiana. Setiap amal perbuatan yang kita lakukan semasa hidup di dunia, kelak di akhirat akan dihisab. Amal baik dan amal buruk akan ditimbang. 

Maka alangkah bahagianya bila kita menemukan pahala amal kebaikan kita lebih banyak dan lebih berat saat hari penimbangan amal. Sehingga Allah ridho menempatkan kita di surga-Nya.
Oleh karena itu, memperberat timbangan amal dan memperbanyak pahala kebaikan adalah tugas kita dalam hidup ini. Agar kelak di akhirat mendapatkan kebahagiaan yang hakiki.
Ada banyak jalan untuk beramal memperberat timbangan pahala. Diantaranya dengan berzikir dengan kalimat tasbih sebagaimana yang di Sabdakan Nabi Muhammad SAW.
 Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ، ثَقِيلَتَانِ فِى الْمِيزَانِ ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ
“Dua kalimat yang ringan di lisan, namun berat ditimbangan, dan disukai Ar Rahman yaitu “Subhanallah wa bi hamdih, subhanallahil ‘azhim” (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya. Maha Suci Allah Yang Maha Agung). (HR. Bukhari no. 6682 dan Muslim 2694).
Jadi bertasbih dengan: 
 سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ
meskipun ringan diucapkan namun besar pahalanya. Bahkan yang terpenting adalah disukai oleh Allah SWT. Oleh karena itu hendaklah kita membiasakan diri bertasbih dengan dua kalimat tersebut. Karena Fadilah atau keutamaannya sangat luar biasa. Waullohu A'lam


ISLAMIANA- Dua wanita muslimah warga Amerika Serikat (AS) terpilih menjadi anggota Kongres AS dalam pemilihan umum (pemilu) sela 6 November 2018. Ini menjadi momen pertama kali dalam sejarah AS ketika dua wanita muslim menjadi anggota Kongres AS saat retorika anti-Muslim merajalela. 

Seperti dilansir AFP, Rabu (7/11/2018), dua politikus wanita itu adalah Ilhan Omar(36) dan Rashida Tlaib (42), yang sama-sama mewakili Partai Demokrat dalam pemilu sela 6 November.

Omar yang seorang pengungsi Somalia, dipastikan memenangkan kursi House of Representatives (HOR) -- setara DPR -- untuk salah satu distrik Minnesota.

Sedangkan Tlaib yang seorang pekerja sosial, dipastikan memenangkan kursi House atau HOR di salah satu distrik di Detroit, Michigan. Tlaib yang merupakan anak imigran Palestina ini tidak menghadapi perlawanan dari kandidat Republikan dalam pemilu sela ini.

Kedua wanita muslim ini akan menambah jumlah total politikus muslim di House menjadi tiga orang. Anggota parlemen Andree Carson, yang seorang muslim dan keturunan Afrika-Amerika, juga dipastikan mempertahankan kursi House untuk salah satu distrik Indiana.

Terpilihnya Omar dan Tlaib dalam pemilu sela ini sungguh bertolak belakang dengan meningkatkan sentimen anti-Islam di AS. Council on American-Islamic Relations (CAIR) melaporkan peningkatan 21 persen dalam kejahatan kebencian anti-Islam dalam enam bulan pertama tahun 2018. (dtc)

Monday, October 29, 2018


Sahabat Islamiana. Dalam suatu hadits riwayat Imam Bukhari, Muslim dan Tirmidzi diceritakan bahwa penghuni neraka terbanyak adalah dari golongan perempuan:

وَقمْتُ عَلَى بَابِ النَّارِ، فَإِذَا عَامَّةُ مَنْ دَخَلَهَا النِّسَاءُ

Artinya: “Saya (Rasulullah Saw) berdiri di depan pintu neraka. Kebanyakan orang yang masuk neraka adalah perempuan.”

Lalu yang menjadi pertanyaan, kenapa perempuan banyak menjadi penghuni neraka?

Imam Bukhari dalam kitab shahihnya mencantumkan hadist riwayat Abu Said al-Khudri yang menyaksikan Rasulullah Saw bersabda kepada beberapa Sahabiyah (sahabat perempuan):

قَالَ: يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ فَإِنِّي أُرِيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أّهْلِ النَّارِ فَقُلنَ: وَبِمَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: تُكْثِرْنَ اللِّعَنَ، وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ

Artinya: “Rasulullah Saw bersabda: ‘Wahai para perempuan sekalian bersedekahlah! Karena sesungguhnya aku diperlihatkan bahwa mayoritas penghuni neraka adalah kalian (kaum perempuan).’ Kemudian para perempuan itu bertanya: ‘Mengapa ya Rasulullah?’ Rasul pun menjawab: Kalian sering melaknat dan berbuat kufur kepada suami.”

Baca juga:
-LIMA DOSA SUAMI TERHADAP ISTRI YANG HARUS ANDA TAHU

-SEMBILAN CIRI ISTRI YANG DIDAMBAKAN SUAMI DAN DIRINDUI SURGA

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari-nya menjelaskan bahwa kufur dalam hal ini bukanlah kufur yang menjadikan manusia keluar dari Islam. Akan tetapi yang dimaksud kufur kepada suami adalah mengingkari nikmat yang telah diberikan oleh suami dan meninggalkan kebaikan yang telah dilakukan sehingga menjadikan istri tersebut tidak taat.

Hal ini mengingat kewajiban istri untuk taat kepada suami adalah sebuah keniscayaan. Sebagaimana disabdakan Rasulullah Saw:

لَوْ أَمَرْتُ أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ المَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

Artinya, “Jika saya (diperbolehkan) memerintah seseorang untuk bersujud kepada orang lain, maka saya akan memerintahkan seorang istri untuk bersujud kepada suaminya.”

Jadi jika sudah mengetahui sebabnya maka janganlah menghujat, melaknat dan kufur kepada suami. Syukurlah kebaikan dan nafkah yang suami berikan. Insyaallah bila taat pada suami, suami akan ridho kepada istri dan itu menjadi asbab istri mendapatkan surga.

Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « أيما امرأة ماتت وزوجها عنها راض دخلت الجنة »
(رواه إبن ماجه والترمذي)
"Wanita mana saja yang meninggal dunia, kemudian suaminya merasa ridho terhadapnya, maka ia akan masuk surga".  (HR Ibnu Majah, dan di hasankan oleh Imam Tirmidzi). Waulohu A'lam.